PAMEKASAN, NOTICE – Bukan sekadar angka. 12 tahun bagi Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan adalah tentang ribuan kilometer perjalanan, ribuan panggilan darurat, dan ribuan nyawa yang dibantu untuk diselamatkan.
Di bawah komando Budi Cahyono, FRPB Pamekasan genap berusia 12 tahun. Sebuah perjalanan yang dimulai dari niat sederhana: hadir bukan saat semuanya baik-baik saja, melainkan justru ketika masyarakat dalam kondisi paling sulit.
“Dua belas tahun bukan sekadar waktu yang berlalu. Ini adalah ribuan panggilan yang kami tanggapi, ribuan kilometer perjalanan menolong, ribuan nyawa yang sempat kami bantu selamatkan,” ujar Ketua FRPB Pamekasan, Budi Cahyono, Minggu (1/11/2026).
Selama 12 tahun, dua pilar menjadi napas pengabdian mereka: penanggulangan bencana dan layanan ambulans gratis 24 jam.
Saat banjir merendam, gempa mengguncang, tanah longsor menutup akses, hingga kebakaran melanda, relawan FRPB selalu menjadi yang pertama tiba. Mereka melakukan evakuasi, menyalurkan logistik darurat, hingga melakukan pendampingan pasca-bencana dan edukasi kesiapsiagaan di sekolah dan desa.
Tak kalah vital adalah layanan ambulans. Bagi warga Pamekasan, sirine ambulans FRPB bukan sekadar suara kendaraan, tapi suara harapan.
Ambulans FRPB siaga 24 jam tanpa memandang latar belakang pasien. Mengantar rujukan medis, menangani gawat darurat, hingga menjadi penolong pertama di saat genting, semua dilakukan tanpa pamrih.
Memasuki usia ke-13, Budi menegaskan pihaknya tidak akan berpuas diri.
“Kami menyadari pelayanan ini belum sempurna. Tapi semangat melayani dari hati untuk sesama tidak pernah berubah,” tegasnya.
FRPB berkomitmen untuk terus meningkatkan kecepatan respon bencana, menjaga kualitas layanan ambulans, memperluas jangkauan ke pelosok desa, dan membekali relawan dengan kemampuan terbaik.
“Terima kasih kepada seluruh relawan yang telah menyisihkan waktu, tenaga dan hati. Kalian adalah jantung organisasi ini. Dan kepada masyarakat, terima kasih atas kepercayaannya,” pungkasnya. (znf/Aj).






