Ketua Umum PB NU Ungkap Strategi Geopolitik Mbah Wahab: Batal ke Saudi, Pilih Bangun Fondasi NU

Avatar

- Reporter

Minggu, 16 Agustus 2026 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

JOMBANG, NOTICENEWS.ID — Keputusan KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab tidak berangkat ke Arab Saudi untuk menghadiri Muktamar Khilafah ternyata menyimpan strategi geopolitik yang jauh melampaui alasan tertinggal kapal.

 

Hal itu diungkap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam bedah buku karya H Abdul Mun’im DZ di Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.

Di hadapan akademisi, santri, dan warga NU, Gus Yahya mengajak peserta membaca kembali pemikiran para muassis NU, terutama bagaimana Mbah Wahab merespons perubahan geopolitik dunia Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.

Buku setebal 262 halaman yang diterbitkan Unwaha Press pada 2024 itu menjadi pintu masuk untuk mengurai perjalanan pemikiran dan gerakan Mbah Wahab.

Gus Yahya menjelaskan, wawasan Mbah Wahab terbentuk melalui proses panjang. Selain menimba ilmu di Makkah, Mbah Wahab juga aktif dalam pergerakan Sarekat Islam (SI). Pengalaman tersebut membentuk wawasan keagamaan sekaligus kebangsaannya.

Sepulang dari Tanah Suci, Mbah Wahab kemudian membangun berbagai gerakan yang menjadi ruang penguatan pendidikan, ekonomi, dan intelektual umat.

BACA JUGA :  Diduga Keracunan, Polisi Dalami Kasus Siswa SDN Pasanggar 1 Pamekasan Muntah

Pada 1916, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan sebagai wadah pendidikan sekaligus penguatan kesadaran kebangsaan.

Kemudian pada 1918, lahir Nahdlatut Tujjar yang bergerak di bidang ekonomi dengan menghimpun kekuatan para pedagang. Pada tahun yang sama, Mbah Wahab juga menginisiasi Tashwirul Afkar sebagai forum pertukaran gagasan di kalangan ulama, guru, dan cendekiawan Muslim.

Menurut Gus Yahya, ketiga gerakan tersebut menjadi fondasi penting yang kemudian mengantarkan lahirnya Nahdlatul Ulama pada 1926.

Salah satu bagian yang menjadi sorotan dalam pemaparan Gus Yahya adalah kisah Mbah Wahab yang mendapat undangan menghadiri Muktamar Khilafah di Arab Saudi.

Namun, Mbah Wahab akhirnya tidak berangkat. Alasan yang disampaikan kala itu karena tertinggal kapal.

Menurut Gus Yahya, alasan tersebut tidak cukup dibaca sebagai persoalan teknis perjalanan. Ia melihatnya sebagai bentuk diplomasi khas ulama Nusantara dalam menyikapi dinamika politik dunia Islam.

“Alasan tertinggal kapal itu bukan sekadar persoalan teknis. Itu merupakan cara Mbah Wahab menyampaikan sikapnya dengan halus,” ungkap Gus Yahya.

BACA JUGA :  Dapur MBG Miftahut Thullab Sampang Resmi Diluncurkan: Santri Sehat, Ekonomi Desa Bergerak

Mbah Wahab, kata Gus Yahya, memiliki pertimbangan terhadap gagasan menjadikan Arab Saudi sebagai pusat khilafah baru setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.

“Kalau Saudi dijadikan pusat khilafah, Mbah Wahab memiliki pertimbangan yang berbeda. Beliau melihat ada persoalan mendasar dalam tradisi keilmuan yang berkembang di sana,” jelasnya.

Pandangan tersebut tidak terlepas dari perbedaan tradisi keilmuan dan corak keberagamaan antara perkembangan Islam di Hijaz dengan tradisi Islam Nusantara yang mempertahankan sanad keilmuan serta Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Tradisi keislaman Nusantara memiliki sanad keilmuan yang bersambung. Ini menjadi salah satu karakter penting yang dipertahankan para ulama kita,” tutur Gus Yahya.

Dari sini, menurut Gus Yahya, terlihat bagaimana Mbah Wahab membaca situasi global sekaligus menentukan langkah strategis bagi gerakan Islam di Nusantara.

Alih-alih terlibat dalam perebutan arah politik dunia Islam, Mbah Wahab justru memperkuat gerakan di tanah air. Bersama para ulama, langkah tersebut kemudian bermuara pada lahirnya Nahdlatul Ulama.

Gus Yahya menegaskan, kelahiran NU tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang muncul secara tiba-tiba.

BACA JUGA :  Tak Kuorum Paripurna Penetapan LKPJ APBD 2025, Ketua DPRD Pamekasan Sebut Opsi Perkada Bisa Ditempuh

Sebelum NU berdiri pada 1926, para ulama telah membangun fondasi melalui pendidikan, penguatan ekonomi umat, serta pertukaran gagasan.

“NU tidak lahir secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang sudah dipersiapkan oleh para ulama melalui pendidikan, ekonomi dan pengembangan pemikiran,” kata Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, salah satu keunikan NU terletak pada proses kelahirannya. NU tumbuh dari lingkungan ulama dan masyarakat di tengah tekanan kolonial, bukan dibentuk dari lingkaran penguasa politik maupun militer.

“NU lahir dari rahim masyarakat dan para ulama, bukan dari kekuasaan politik atau militer,” tegasnya.

Karena itu, sejarah para muassis NU dinilai penting untuk terus dibaca oleh generasi sekarang. Bukan hanya sebagai nostalgia, tetapi sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Gus Yahya juga mengingatkan kembali pesan Mbah Wahab mengenai pentingnya menjaga NU dari berbagai upaya perusakan dari dalam.

“Pesan Mbah Wahab harus terus kita ingat. Siapa pun yang berusaha merusak NU dari dalam, pada akhirnya akan hancur oleh perbuatannya sendiri,” pungkasnya. (Mad/Aj).

Berita Terkait

Ketua Serikat Rakyat Pamekasan Bung Makruf Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perampasan Aset
BIP Raih Dua Penghargaan Asia Award 2026, Ali Zainal Abidin Dorong Gerakan Kemanusiaan Menembus Asia
Di Penghujung HUT ke-81 RI, SeRaP Ajak Warga Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Presiden RI Prabowo Terima Kartanu Seumur Hidup dari PBNU, Momen Bersejarah di Penutupan Muktamar ke-35 NU
Usai Terpilih Ketum PBNU, Gus Kikin Teken Pakta Integritas: Siap Disanksi Jika Melanggar
Muktamar ke-35 NU Tetapkan Dua Pucuk Pimpinan, Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU 2026–2031
Pameran Turots Warnai Muktamar ke-35 NU Hidupkan Jejak Keilmuan Ulama Nusantara
Jelang Muktamar NU ke-35, Tambakberas Disulap Jadi Kawasan Muktamar dan Pusat UMKM

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 14:37 WIB

BIP Raih Dua Penghargaan Asia Award 2026, Ali Zainal Abidin Dorong Gerakan Kemanusiaan Menembus Asia

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:56 WIB

Di Penghujung HUT ke-81 RI, SeRaP Ajak Warga Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Presiden RI Prabowo Terima Kartanu Seumur Hidup dari PBNU, Momen Bersejarah di Penutupan Muktamar ke-35 NU

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Usai Terpilih Ketum PBNU, Gus Kikin Teken Pakta Integritas: Siap Disanksi Jika Melanggar

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Muktamar ke-35 NU Tetapkan Dua Pucuk Pimpinan, Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU 2026–2031

Berita Terbaru