SAMPANG, NOTICE – Pondok Pesantren Miftahut Thullab, Gedangan, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, menjadi titik awal lahirnya semangat baru kemandirian gizi dan ekonomi pesantren. Sabtu (9/11/2025), Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Miftahut Thullab resmi diluncurkan dengan misi ganda: memenuhi gizi generasi muda sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Program strategis ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan nasional yang dicanangkan Presiden untuk memperkuat ketahanan gizi masyarakat dari bawah. Namun, di tangan para penggerak lokal seperti Ahmad Said, Kepala SPPG Miftahut Thullab, program ini tumbuh menjadi lebih dari sekadar dapur—ia menjadi pusat sinergi sosial dan ekonomi.
“Saya hanya menjalankan tugas mulia ini sesuai dengan tujuan utama Bapak Presiden, yaitu memastikan pemenuhan gizi dari generasi ke generasi,” ujar Ahmad Said dengan rendah hati.
Menurut Said, pemenuhan gizi tidak bisa dipisahkan dari kualitas pendidikan. “Ketika kebutuhan gizi generasi kita terpenuhi, proses belajar akan lebih optimal dan kualitas pendidikan pun meningkat,” ungkapnya.
Namun, yang membuat program ini istimewa adalah daya dorong ekonominya.
SPPG Miftahut Thullab bukan hanya menyajikan makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang hidup bagi banyak orang di sekitarnya.
“Dalam proses pemenuhan gizi, otomatis kita juga membantu masyarakat sekitar, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi pengangguran,” tegasnya.
Di balik semangat besar ini, Said tak menutup mata pada tantangan lapangan. Salah satunya adalah penyesuaian dengan kultur lokal pesantren Madura.
“Di sini hari libur bukan Minggu, tapi Jumat. Ini menjadi tantangan tersendiri apakah harus mengikuti standar umum atau menyesuaikan dengan sosial budaya lokal,” katanya.
Kendala infrastruktur jalan juga masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, keberadaan pesantren di jalur utama dianggap sesuai dengan arahan Badan Gizi Nasional (BGN), sehingga distribusi tetap bisa berjalan lancar.
Ahmad Said berharap kehadiran Dapur MBG tidak berhenti sebagai proyek semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang memberi manfaat nyata.
“Kami ingin program ini berjalan sesuai arahan Presiden Prabowo—memenuhi kebutuhan gizi dan menghidupkan ekonomi masyarakat bawah. Tanpa dukungan yayasan dan masyarakat, kami tak akan bisa merealisasikannya secara optimal,” pungkasnya.
Dengan peluncuran Dapur MBG di Miftahut Thullab, pesantren ini bukan hanya mendidik santri dalam ilmu agama, tetapi juga menjadi pelopor kemandirian pangan dan ekonomi lokal di Madura. (Ical/Aj).





