JOMBANG, NOTICENEWS.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tak hanya menjadi forum tertinggi organisasi, tetapi juga momentum penting untuk menghidupkan kembali warisan intelektual ulama dan kiai Nusantara. Melalui gerakan Nahdlatut Turots, puluhan pesantren akan menghadirkan manuskrip klasik yang selama ini tersimpan di berbagai penjuru Indonesia.
Selama berabad-abad, para ulama Nusantara telah melahirkan ribuan karya tulis di berbagai bidang keilmuan Islam. Tradisi penulisan tersebut berkembang secara masif sejak abad ke-17 Masehi. Namun, sebagian besar manuskrip itu masih tersimpan di lingkungan pesantren, perpustakaan, maupun koleksi keluarga para ulama, sehingga belum banyak dikenal dan dipelajari masyarakat luas.
Padahal, jejak intelektual ulama Indonesia tidak hanya tersimpan di dalam negeri. Sejumlah karya mereka pernah menjadi bagian penting dari perkembangan industri percetakan kitab-kitab Islam di Timur Tengah, membuktikan besarnya kontribusi ulama Nusantara dalam khazanah keilmuan Islam dunia.
Melalui Nahdlatut Turots, berbagai manuskrip tersebut kini mulai dihimpun, di digitalisasi, dikaji, hingga dipersiapkan untuk diterbitkan kembali. Gerakan ini menjadi langkah nyata dalam menyelamatkan sekaligus menghidupkan kembali aset intelektual pesantren yang memiliki nilai sejarah, keilmuan, dan kebangsaan.
Koordinator Nahdlatut Turots, Lora Usman Hasan Al-Akhyari, mengatakan bahwa gerakan tersebut bertujuan merevitalisasi tradisi intelektual pesantren melalui digitalisasi, pengarsipan, serta kajian kritis terhadap manuskrip warisan ulama terdahulu.
Menurutnya, pada Muktamar ke-35 NU, sekitar 60 pondok pesantren akan bergabung dalam gerakan Nahdlatut Turots dengan membawa koleksi manuskrip dan arsip keilmuan masing-masing, termasuk arsip bersejarah milik Nahdlatul Ulama.
“Ini bukan sekadar upaya melestarikan naskah lama, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi keilmuan pesantren agar dapat diakses dan dipelajari oleh generasi masa kini,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Sementara itu, Koordinator Komunitas Pegon yang juga tergabung dalam Nahdlatut Turots, Ayung Notonegoro mengungkapkan bahwa Muktamar ke-35 NU akan diwarnai rangkaian kegiatan bertajuk “Turots di Muktamar”.
Kegiatan tersebut meliputi seminar internasional, pameran manuskrip ulama, Klinik Turots, daurah tahqiq kitab para muasis NU, musyawarah besar pegiat turots, hingga ijazah sanad ilmiah yang akan diberikan oleh para masyayikh NU.
Rangkaian kegiatan itu diharapkan menjadi ruang pertemuan antara tradisi keilmuan klasik pesantren dengan perkembangan teknologi modern, sehingga manuskrip para ulama tidak lagi hanya tersimpan sebagai dokumen sejarah, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sumber rujukan keilmuan bagi masyarakat luas.
Di sisi lain, kesiapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU terus dimatangkan. Sejak ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan, jajaran dzuriyah dan pengurus pondok bergerak melakukan berbagai persiapan.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum sekaligus Ketua Panitia Lokal Muktamar, KH Abdur Rozaq Sholeh atau Gus Rozak, terus mengoordinasikan seluruh unsur pesantren bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait guna memastikan pelaksanaan Muktamar berlangsung lancar, sukses, dan bermartabat.
Melalui gerakan Nahdlatut Turots, Muktamar ke-35 NU diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi organisasi, tetapi juga menjadi tonggak kebangkitan kembali tradisi sanad keilmuan ulama Nusantara serta memperkenalkan kekayaan intelektual pesantren kepada masyarakat Indonesia dan dunia. (Mad/Aj).







