Tetap Madura di Tanah Orang: Harmoni Agama, Tradisi, dan Solidaritas

Avatar

- Reporter

Jumat, 2 Mei 2025 - 08:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Imam Faisal Mobarok

Imam Faisal Mobarok

Opini, Masyarakat Madura dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki karakter gigih, ulet, dan semangat merantau yang tinggi. Karakter ini terbentuk dari kondisi geografis Pulau Madura yang relatif tandus dan terbatas sumber daya alamnya, sehingga mendorong masyarakatnya untuk mencari peluang hidup yang lebih baik di luar daerah asal.

Semangat kerja keras, keberanian dalam menghadapi tantangan, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru menjadikan orang Madura banyak ditemukan di berbagai pelosok Indonesia, terutama di sektor informal seperti perdagangan, jasa, dan pertanian. Nilai-nilai seperti bhersembher, lakon se atellor, dan semangat kebersamaan dalam merantau menjadi bagian dari identitas budaya mereka yang terus terpelihara, bahkan ketika berada di tanah rantau.

Menurut antropolog Kuntowijoyo dalam bukunya “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura” (1980), masyarakat Madura memiliki etos kerja yang tinggi dan nilai-nilai kemandirian yang kuat. Hal ini pula yang menyebabkan etnis Madura dikenal sebagai salah satu kelompok perantau terbesar di Indonesia.

BACA JUGA :  Bawang Emas Group Mulai Beli Tembakau Pamekasan, Petani Optimis Harga Tinggi

Di tanah rantau, jauh dari pulau asal, masyarakat Madura tetap menggenggam erat warisan leluhur. Solidaritas di antara mereka tumbuh bukan sekadar karena kesamaan asal, melainkan dari rasa senasib sepenanggungan sebagai perantau. Di tengah kerasnya persaingan di kota-kota besar, mereka saling menopang, menciptakan jaringan sosial berbasis kampung halaman, yang biasa disebut paguyuban.

Dalam konteks ini, teori Struktural Fungsional yang dikemukakan oleh Talcott Parsons dapat diterapkan untuk memahami bagaimana masyarakat Madura beradaptasi dan berkembang di tanah rantau. Empat komponen utama dalam teori ini, yaitu Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency (AGIL), dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat Madura di rantau.

BACA JUGA :  Ruang Refleksi Pendidikan: Keutuhan Moral dan Intelektual Sebagai Pondasi Keutuhan Bangsa

1. Adaptation (adaptasi): Masyarakat perantauan Madura menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan baru, sehingga mereka dapat mencari nafkah dan bertahan hidup.

2. Goal Attainment (tujuan): Tujuan utama masyarakat Madura merantau adalah peningkatan ekonomi dan status sosial. Solidaritas komunitas Madura di rantau juga mendukung pencapaian tujuan kolektif maupun individu.

3. Integration (integrasi): Solidaritas antar sesama perantau sangat kuat, sehingga mereka dapat saling membantu dan bekerja sama dalam berbagai aspek kehidupan.

4. Latency (latensi): Agama Islam dan budaya/tradisi Madura berfungsi sebagai penjaga nilai-nilai dan norma, sehingga identitas budaya mereka tetap terjaga meskipun berada di tanah rantau.

Dalam kehidupan masyarakat Madura di rantau, agama, tradisi, dan solidaritas bukanlah tiga hal yang terpisah. Mereka saling menyatu, membentuk fondasi yang kokoh bagi masyarakat Madura dalam menghadapi tantangan hidup di tanah rantau.

BACA JUGA :  Suku Madura Bukan Jawa?

Contoh paguyuban pengepul besi tua di Sidoarjo dan Mojokerto menunjukkan bagaimana ketiga nilai tersebut diimplementasikan dalam kegiatan rutin, seperti Khataman Al-Qur’an, Aqidah 50, Tahlil, dan Sholawat Mahallul Qiyam. Tradisi ini mencerminkan bagaimana identitas keislaman dan kebudayaan Madura tetap hidup dan lestari, bahkan di tanah rantau.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa agama, tradisi, dan solidaritas merupakan pilar utama dalam menjaga jati diri dan keberlangsungan komunitas masyarakat Madura di tanah rantau. Ketiganya membentuk fondasi yang kokoh bagi masyarakat Madura dalam menghadapi tantangan hidup di lingkungan baru.

Imam Faisal Mobarok: Wartawan noticenews.id, Tulisan ini menurut pandangan pribadinya.

Berita Terkait

Hardiknas: Ketika Pendidikan Meninggi, Moral Justru Menepi
Ruang Refleksi Pendidikan: Keutuhan Moral dan Intelektual Sebagai Pondasi Keutuhan Bangsa
Tiga Bulan Sejak Diluncurkan, Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam Indosat Cegah Ratusan Juta Upaya Penipuan Digital
Towards a Golden Era: Pemuda Beradaptasi atau Mati
Hari Santri Nasional: Mengenang Peran dan Kontribusi Pesantren
Coretan Pena di Hari Santri : Santri dan Keutuhan NKRI
Madura dan Organisasi Kedaerahan: Antara Kebanggaan dan Dekadensi
Indonesia Merdeka : Bangga Kah Punya Kita?

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:29 WIB

Hardiknas: Ketika Pendidikan Meninggi, Moral Justru Menepi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:41 WIB

Ruang Refleksi Pendidikan: Keutuhan Moral dan Intelektual Sebagai Pondasi Keutuhan Bangsa

Senin, 24 November 2025 - 18:14 WIB

Tiga Bulan Sejak Diluncurkan, Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam Indosat Cegah Ratusan Juta Upaya Penipuan Digital

Selasa, 28 Oktober 2025 - 12:38 WIB

Towards a Golden Era: Pemuda Beradaptasi atau Mati

Rabu, 22 Oktober 2025 - 20:49 WIB

Hari Santri Nasional: Mengenang Peran dan Kontribusi Pesantren

Berita Terbaru

Suasana Konferensi Pers yang dipimpin langsung oleh Kasat Lantas Polres Pamekasan.

Hukum & Kriminal

Ratusan Motor Balap Liar Diamankan, Polres Pamekasan Sita 582 Kendaraan

Senin, 11 Mei 2026 - 09:12 WIB