Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Delapan dekade sejak pekik “merdeka!” menggema dari Sabang sampai Merauke, menyatukan ragam perbedaan dalam satu tanah air.
Delapan puluh tahun sejak para pendiri bangsa bertaruh nyawa demi tanah yang kita pijak hari ini.
Namun hari ini, kita bertanya bukan hanya kepada bangsa ini, tapi juga kepada diri sendiri :
Bangga kah Indonesia punya kita?
Apakah Indonesia bangga karena kita menjaga kejujuran, meski mudah untuk berbuat curang?Apakah Indonesia bangga karena kita memilih merawat bumi pertiwi, bukan merusaknya demi keuntungan pribadi?
Apakah Indonesia bangga karena kita memilih bersatu, ketika lebih mudah terpecah oleh perbedaan?
Sering kali, kita merasa bangga menjadi warga negara Indonesia.
Tapi sudahkah kita membuat Indonesia bangga memiliki kita?
Refleksi ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak merenung :
Sudah sejauh mana kita mengisi kemerdekaan dengan makna?
Sudah sekeras apa kita bekerja bukan hanya untuk diri, tapi juga demi negeri?
Kemerdekaan bukan sekadar warisan ia adalah tanggung jawab.
Dan di usia yang ke-80 ini, Indonesia tak lagi butuh sekadar ucapan.
Ia menanti aksi.
Ia menunggu generasi yang tak hanya menikmati merdeka, tapi juga menjaga dan memperjuangkannya kembali setiap hari.
Maka mari bertanya kembali, dengan hati yang jujur :
Bangga kah Indonesia punya kita? Dan jika jawabannya belum, mari kita ubah bersama.
Karena Indonesia yang besar ini, Layak memiliki anak-anak bangsa yang besar pula.
Dirgahayu ke-80, Indonesiaku.
Semoga kau benar-benar bangga punya kita.






