Opini, Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita akan perjalanan panjang pendidikan di tanah air, yang tak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter dan jati diri bangsa.
Sebagai pilar utama peradaban, pendidikan sejatinya adalah api yang menyalakan harapan, memberikan cahaya dalam gelapnya ketidaktahuan, dan menjadi jembatan menuju kemajuan.
Dalam semangat Ki Hajar Dewantara, mari kita terus berusaha menciptakan ruang-ruang belajar yang inklusif, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang tanpa terhalang oleh keterbatasan.
Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan nilai-nilai luhur yang akan menggerakkan perubahan positif bagi bangsa.
Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban. Tanpa pendidikan yang kuat, kita akan kesulitan membangun masyarakat yang adil, makmur, dan berdaya saing. Namun pendidikan sejati bukan hanya soal akademik, bukan semata-mata tentang nilai, ijazah, atau gelar.
Pendidikan sejati adalah proses panjang yang membentuk karakter, memperkaya jiwa, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.
Tantangan dunia pendidikan hari ini tidaklah ringan. Kita menghadapi era digital yang serba cepat, di mana informasi datang bertubi-tubi dan perubahan terjadi dalam hitungan detik.
Maka pendidikan pun harus bertransformasi-bukan hanya mengejar ketertinggalan, tapi juga menyiapkan peserta didik agar mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan. Pendidikan hari ini harus membekali siswa dengan kecakapan hidup, empati, serta semangat kolaborasi dan di sertai akhlak yang mulia dalam setiap tindakan dan cara berpikirnya.
Kita juga tidak boleh melupakan peran guru sebagai ujung tombak perubahan. Guru bukan hanya pengajar, tapi juga pembimbing, teladan, dan penggerak nilai-nilai luhur. Di tangan merekalah masa depan bangsa ini digenggam. Maka sudah sepatutnya kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru yang terus berjuang dengan tulus, bahkan dalam keterbatasan.
Namun pendidikan tidak hanya milik sekolah. Ia adalah tanggung jawab bersama orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Ketika ketiganya bersinergi, maka terbentuklah lingkungan belajar yang sehat dan mendukung perkembangan anak secara utuh.
Mari kita jadikan setiap rumah sebagai tempat pertama dan utama untuk belajar. Jadikan setiap pengalaman hidup sebagai bahan pelajaran berharga.
Semangat Ki Hadjar Dewantara, yang terkenal dengan falsafah: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” mengajarkan kita bahwa pemimpin sejati adalah yang mampu memberi teladan di depan, mendorong di belakang, dan membangun semangat bersama di tengah-tengah.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita perkuat komitmen untuk terus belajar, terus berkembang, dan terus berkontribusi. Karena hanya dengan pendidikan lah, Indonesia bisa melangkah maju, menjadi bangsa yang tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga unggul dalam kualitas.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025. Mari kita rayakan semangat belajar sepanjang hayat untuk masa depan yang lebih cerah, adil, dan berkeadaban.
Dalam setiap kata yang terucap, Dalam tiap langkah yang ditempuh, Tersimpan harapan yang tak pernah Rapuh
Nurahmad: wartawan noticenews.id, tulisan ini menurut pandangan pribadinya.







