PAMEKASAN, NOTICENEWS.ID — Tangis histeris pecah di rumah duka saat jenazah Nurul Rian, Anak Buah Kapal (ABK) KMP Virgo Transport, tiba di kediamannya di Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Rabu sekitar pukul 11.30 WIB.
Isak tangis istri dan keluarga mengiringi kepulangan Rian setelah sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas pelayaran. Jenazah almarhum dipulangkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Bandara Juanda Surabaya sebelum kemudian dibawa ke rumah duka di Pamekasan.
Sejak pagi, istri, orang tua, kerabat dan keluarga korban telah menanti kedatangan jenazah. Suasana haru semakin pecah ketika kendaraan yang membawa jenazah tiba di rumah duka.
Di balik kepulangan tersebut, tersimpan cerita tentang pesan terakhir Rian kepada sang istri sebelum kembali menjalankan tugas sebagai ABK.
Perwakilan keluarga, Yati, yang merupakan adik ipar Rian, mengatakan almarhum dikenal sebagai sosok yang sabar dan pendiam. Rian juga telah memiliki pengalaman di dunia pelayaran sebelum bekerja di PT Virgo sekitar tiga hingga empat bulan terakhir.
“Rian itu orangnya sabar dan pendiam,” ujar Yati saat ditemui awak media.
Menurut Yati, sebelum kembali bertugas, Rian sempat menikmati waktu bersama keluarga. Ia sebelumnya mendapat jatah cuti mingguan dan seharusnya kembali bekerja pada Rabu. Namun, Rian sempat meminta izin untuk memperpanjang waktu berkumpul bersama keluarga hingga Jumat.
“Hari Jumat sekitar jam 8 pagi baru balik dari rumah, lalu Sabtu jam 10 berangkat kerja dari Surabaya. Malamnya masih sempat berkontak dengan istri dan anaknya, sebelum akhirnya hilang kontak sekitar jam 1 dini hari,” ungkapnya.
Komunikasi tersebut menjadi percakapan terakhir Rian dengan keluarganya sebelum kabar duka datang.
Keluarga baru mengetahui adanya musibah pada Minggu sekitar pukul 11.00 WIB. Informasi tersebut diterima melalui adik Rian yang mendapat kabar dari rekan kerja almarhum sesama pelaut.
Yati menuturkan, tidak ada firasat khusus sebelum Rian berangkat menjalankan tugas. Namun, ada satu pesan yang hingga kini terus diingat keluarga, terutama oleh sang istri.
Rian meminta istrinya agar tidak terlalu banyak memikirkan dirinya selama menjalankan tugas. Ia bahkan menyampaikan bahwa kebutuhan anak-anak untuk satu bulan ke depan telah dipersiapkan.
“Dia cuma bilang ke istrinya supaya jangan banyak pikiran dalam satu bulan ini, karena semua kebutuhan anak sudah dipenuhi untuk sebulan ke depan. Cuma itu saja,” tutur Yati.
Kini, pesan sederhana tersebut menjadi kenangan terakhir bagi keluarga. Kepergian Rian meninggalkan duka mendalam, terutama bagi istri dan anak-anak yang sebelumnya masih sempat berkomunikasi dengannya sebelum almarhum berangkat menjalankan tugas.
Keluarga kemudian mempersiapkan prosesi pemakaman setelah jenazah tiba di rumah duka. (Mad/Aj).







