SURABAYA, NOTICE – Polemik penetapan tuan rumah babak 16 besar Liga 4 Kapal Api Jawa Timur terus bergulir. Keputusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Jawa Timur yang menunjuk Pasuruan sebagai tuan rumah menuai penolakan keras dari supporter Persepam yang menggelar aksi demonstrasi, Selasa (14/1/2026).
Massa aksi menilai keputusan tersebut sarat kejanggalan dan tidak mencerminkan prinsip transparansi serta profesionalisme. Mereka mempertanyakan mekanisme penunjukan tuan rumah yang dinilai dilakukan tanpa dasar yang jelas, padahal sebelumnya Sekretaris Jenderal PSSI Jawa Timur menegaskan bahwa penetapan venue harus mempertimbangkan kesiapan teknis dan kelayakan penyelenggaraan.
Koordinator aksi, Nabil Anna, menegaskan bahwa penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menyebut fasilitas stadion di Pasuruan tidak memenuhi regulasi yang telah ditetapkan untuk kompetisi Liga 4.
“Salah satu persoalan paling mendasar adalah stadion di Pasuruan tidak memiliki lampu penerangan. Ini jelas bertentangan dengan regulasi liga. Selain itu, fasilitas penunjang lainnya juga masih jauh dari kata layak untuk menggelar pertandingan babak 16 besar,” tegas Nabil dalam orasinya.
Sebaliknya, massa aksi menilai Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) Pamekasan, Madura, jauh lebih siap dan layak menjadi tuan rumah. Menurut mereka, stadion tersebut telah memiliki infrastruktur serta fasilitas pendukung yang sesuai dengan ketentuan liga.
“SGRP sudah memenuhi standar, baik dari sisi infrastruktur maupun fasilitas pendukung. Secara regulasi, stadion ini lebih siap untuk menggelar pertandingan penting seperti babak 16 besar,” tambahnya.
Di tengah berlangsungnya aksi, perwakilan PSSI Jawa Timur sempat menemui massa untuk memberikan klarifikasi. Koordinator Bidang Kompetisi PSSI Jawa Timur, Arief Anton, menegaskan bahwa keputusan yang diambil pihaknya telah melalui pertimbangan dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
“Kami menilai penetapan Pasuruan sebagai tuan rumah sudah sesuai kebijakan dan regulasi. Stadion yang digunakan juga kami anggap memadai serta memenuhi standar yang kami tetapkan,” ungkap Arief di hadapan massa.
Namun demikian, klarifikasi tersebut belum mampu meredam tuntutan massa. Hingga aksi berakhir, belum tercapai kesepakatan antara supporter Persepam dan pihak PSSI Jawa Timur. PSSI pun belum memberikan kepastian lanjutan secara resmi dan tertulis terkait tuntutan yang disuarakan.
Aksi protes ini menandai masih adanya ketegangan dan perbedaan pandangan terkait tata kelola kompetisi Liga 4 Jawa Timur, khususnya dalam penentuan tuan rumah yang dinilai krusial bagi sportivitas dan kualitas pertandingan. (Znf/Aj).






