Momentum Hari Batik Nasional, DPRD Pamekasan Soroti Gedung Sentra Batik Klampar Belum Optimal

Avatar

- Reporter

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan, Moh Faridi.

Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan, Moh Faridi.

PAMEKASAN, NOTICE – Keberadaan Gedung Sentra Batik Klampar di Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, kembali menjadi sorotan. Meski telah diresmikan sejak sekitar 2022, fasilitas yang diharapkan menjadi pusat produksi dan pemasaran batik tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

Sorotan itu disampaikan Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan, Moh. Faridi, di tengah keluhan perajin batik asal Desa Klampar mengenai menurunnya penjualan serta belum berjalannya aktivitas membatik di dalam sentra tersebut.

Faridi menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Pamekasan, terlebih bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional.

Menurutnya, Sentra Batik Klampar seharusnya tidak berhenti sebagai bangunan fisik. Fasilitas tersebut harus benar-benar dihidupkan sebagai ruang produksi, promosi, edukasi sekaligus pemasaran bagi para perajin.

“Kalau dinas terkait sudah tidak sanggup menggarap dan mengembangkan Sentra Batik Klampar, lebih baik pengelolaannya diberikan atau diserahkan kepada pemerintah desa setempat, dengan catatan ada program khusus yang dikembangkan,” ujar Faridi saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Jumat (2/10/2026).

BACA JUGA :  Rumah Dirusak, Warga Pamekasan Laporkan ke Polisi

Ia menegaskan, sentra tersebut harus memberikan ruang bagi perajin untuk melakukan kegiatan produksi, bukan hanya menjadi tempat transaksi.

“Di sana jangan hanya jadi tempat jual beli, tetapi juga ruang bagi pengrajin untuk memproduksi batik,” tegas politisi PKB tersebut.

Sorotan DPRD tersebut muncul setelah salah seorang perajin batik asal Klampar, Fathorrahman, mengungkap kondisi yang dihadapi para perajin di tengah lesunya pasar batik.

Fathorrahman menyebut aktivitas membatik di Sentra Batik Klampar hingga kini belum berjalan. Sementara itu, penjualan batik di kalangan perajin disebut mengalami penurunan karena minat masyarakat yang dinilai semakin terbatas.

Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian perajin di lingkungannya mulai meninggalkan aktivitas membatik dan beralih ke pekerjaan lain.

BACA JUGA :  Mengawal Bantuan Sosial agar Tak Salah Alamat : PMII Pamekasan Dorong Transparansi dan Akuntabilitas Dinas Sosial

Bagi Faridi, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan batik Pamekasan tidak cukup hanya dengan menyediakan bangunan. Pemerintah perlu menghadirkan program yang mampu mendatangkan masyarakat sekaligus menciptakan pasar bagi para perajin.

Ia menilai salah satu persoalan yang membuat perajin enggan beraktivitas di sentra tersebut adalah minimnya kunjungan pembeli.

Karena itu, Faridi mendorong Pemkab Pamekasan menghidupkan kawasan tersebut melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan budaya dan batik.

“Dinas terkait harus membuat event-event kebudayaan di Sentra Batik Klampar untuk memancing keramaian. Jika ada keramaian, minat pengrajin untuk beraktivitas dan menjual produknya di sana tentu akan meningkat,” katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus dapat menjadi sarana promosi untuk memperkenalkan batik Klampar kepada masyarakat yang lebih luas.

Selain persoalan Sentra Batik Klampar, Faridi turut menyoroti arah kebijakan anggaran Pemkab Pamekasan dalam pengembangan UMKM.

BACA JUGA :  Bupati Pamekasan Cari Solusi Lintas Daerah untuk 27 Pasien Cuci Darah

Ia berpandangan, pemerintah daerah semestinya lebih dahulu mengoptimalkan fasilitas yang telah tersedia dan memiliki potensi sebelum membangun tempat baru.

“Kami di Komisi II menolak alokasi anggaran besar yang hanya digunakan untuk membangun tempat UMKM baru yang analisisnya belum jelas, seperti rencana di Terminal Barang maupun di area Stadion,” tegasnya.

Faridi menilai Sentra Batik Klampar sudah memiliki modal awal berupa fasilitas dan potensi perajin. Karena itu, menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah program inovasi, promosi dan penguatan ekosistem usaha.

“Sayangnya, alokasi anggaran tersebut justru digeser ke komisi lain. Padahal, seyogianya Pemkab fokus menyiram program inovatif ke tempat yang sudah ada potensinya, seperti Sentra Batik Klampar maupun Pasar 17 Agustus agar batik Pamekasan bisa naik kelas,” pungkasnya. (Aj).

Berita Terkait

Sentra Batik Klampar Belum Jadi Ruang Produksi, Pengrajin Minta Pemerintah Turun Tangan
Hari Batik Nasional, Pengrajin Pamekasan Dorong Penguatan Budaya dan Pasar
Aktivis Desak UHC Segera Diterapkan, Pemkab Pamekasan Terbitkan SE Layanan Gratis
Diluar Prediksi, Serapan Tembakau di Pamekasan Tembus 42 Ribu Ton
Bupati Pamekasan Targetkan Program UHC Prioritas Tuntas November 2026
P-APBD Pamekasan 2026 Disetujui, DPRD Bakal Kirim Besok ke Gubernur Jatim
Ketua Serikat Rakyat Pamekasan Bung Makruf Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perampasan Aset
Anggaran Rp770 Juta DBHCHT Disperindag Pamekasan Belum Terealisasi

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Momentum Hari Batik Nasional, DPRD Pamekasan Soroti Gedung Sentra Batik Klampar Belum Optimal

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Sentra Batik Klampar Belum Jadi Ruang Produksi, Pengrajin Minta Pemerintah Turun Tangan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:29 WIB

Hari Batik Nasional, Pengrajin Pamekasan Dorong Penguatan Budaya dan Pasar

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:51 WIB

Aktivis Desak UHC Segera Diterapkan, Pemkab Pamekasan Terbitkan SE Layanan Gratis

Rabu, 30 September 2026 - 21:29 WIB

Bupati Pamekasan Targetkan Program UHC Prioritas Tuntas November 2026

Berita Terbaru