PAMEKASAN, NOTICE – Kabupaten Pamekasan menghadapi kondisi darurat kebencanaan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan mencatat sebanyak 419 kejadian bencana terjadi sepanjang tahun 2025, mulai dari banjir, puting beliung, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem hingga abrasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi, mengungkapkan bahwa tingginya angka bencana tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis dan lingkungan yang berbeda di setiap wilayah.
Berdasarkan Kajian Rawan Bencana (KRB), potensi kebencanaan tersebar hampir di seluruh kecamatan dengan karakteristik ancaman yang berbeda-beda.
“Wilayah dengan potensi rawan banjir berada di Kecamatan Pamekasan dan sekitarnya, sedangkan potensi longsor banyak terjadi di wilayah dataran tinggi seperti Kecamatan Waru dan kawasan Pantura,” jelas Dhofir, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan, banjir yang kerap melanda kawasan perkotaan tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga akibat menurunnya daya serap air di wilayah hulu serta penyempitan dan pendangkalan sungai di wilayah hilir.
“Dari hulu sampai hilir menjadi satu kesatuan masalah. Di hulu, resapan air berkurang, sementara di hilir kapasitas sungai menyempit akibat sedimentasi dan sampah. Penumpukan sampah di sungai menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera kita benahi bersama,” tegasnya.
Dhofir juga mengingatkan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan memperparah risiko bencana, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Menatap tahun 2026, BPBD Pamekasan berharap angka kejadian bencana dapat ditekan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sebagai langkah pencegahan utama.
“Harapan kami di tahun 2026 tidak ada lagi bencana yang terjadi. Mari kita cegah bersama semaksimal mungkin, mulai dari hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga lingkungan,” pungkasnya. (znf/Aj).






