PAMEKASAN, NOTICE – Rencana aksi demonstrasi Barisan Pemuda Revolusi (Baper) di Polres Pamekasan, Senin (12/10/2026), rupanya batal digelar. Aksi tersebut direncanakan untuk mendesak Polres Pamekasan agar segera menindaklanjuti dugaan pengancaman menggunakan senjata tajam terhadap seorang ibu di Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, yang videonya sempat viral di media sosial.
Seruan aksi beredar melalui flyer di media sosial. Pada hari pelaksanaan, mobil patroli pengawalan dan mobil komando yang membawa sound system sempat terpantau di jalan menuju Polres Pamekasan.
Sejumlah personel kepolisian juga terlihat bersiaga di halaman Mapolres. Namun, massa aksi tak kunjung datang hingga waktu yang direncanakan berlalu.
Kasi Humas Polres Pamekasan, Ipda Yoni Evan Pratama, menyebut batalnya aksi sebagai hal yang biasa terjadi dalam rencana unjuk rasa.
“Kalau ada rencana aksi atau unjuk rasa yang gagal digelar, itu sudah biasa,” ujarnya, saat diwawancarai di Joglo Polres Pamekasan.
Evan menduga batalnya aksi tersebut dipicu persoalan komunikasi di internal massa atau adanya perkembangan informasi baru terkait kasus yang mereka soroti.
“Bisa jadi ada miskomunikasi dari pihak massa aksi, atau mungkin ada fakta baru yang mereka temukan sehingga aksi tidak jadi dilaksanakan,” katanya.
Ia juga menegaskan, tidak ada negosiasi di lapangan antara kepolisian dan massa yang menyebabkan aksi tersebut batal.
“Tidak ada proses negosiasi di lapangan. Kemungkinan besar murni terjadi miskomunikasi,” paparnya.
Batalnya demonstrasi itu membuat rencana penyampaian desakan Baper terkait dugaan pengancaman di Desa Plakpak tidak terlaksana melalui aksi massa pada hari tersebut.
Sebelumnya, Seorang ibu bernama Siti Wardatus Sholehah mengaku mengalami ancaman pembunuhan saat berada di rumah bersama dua anaknya di Dusun Salatreh, Desa Plakpak, Kecamatan
Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (5/10/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.
Menurut Siti, insiden bermula ketika seorang pria bernama Hasbullah atau akrab di panggil Bulla datang ke rumahnya untuk mencari keberadaan suaminya. Saat itu, suami Siti tidak berada di rumah. Hanya Siti bersama kedua anaknya yang masing-masing berusia 8 tahun dan 3 tahun.
Siti menuturkan, kedatangan Hasbullah kemudian berubah menjadi situasi yang membuat dirinya dan kedua anaknya ketakutan. Ia mengaku mendapat ancaman menggunakan celurit untuk memberitahukan keberadaan suaminya.
“Dia datang mencari suami saya. Karena suami saya tidak ada, saya yang ditanya keberadaannya. Saya diancam menggunakan celurit,” ungkap Siti.
Menurut Siti, ancaman tersebut kemudian berlanjut dengan ancaman pembunuhan dan pembakaran rumah.
“Saya diancam mau dibunuh dan rumah mau dibakar. Saya sangat takut, apalagi saat itu saya bersama anak-anak,” pungkasnya.
Aksi dugaan Pengancaman dan Penjarahan tersebut telah dilaporkan ke Polres Pamekasan. (znf/Aj).






